Laporan ini terutama menganalisis status, tantangan, dan peluang ekspor makanan hewan peliharaan China saat ini, dengan konten inti sebagai berikut:

I. Gambaran Pasar dan Tren Pertumbuhan

- Skala Pasar Global: Pada tahun 2024, skala pasar makanan hewan peliharaan global mencapai 151,8 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan tahun-ke-tahun sebesar 7,56%, di mana pertumbuhan makanan kucing melampaui makanan anjing. Pasar di Eropa dan Amerika sudah matang, sementara pasar negara berkembang seperti Asia Tenggara dan Amerika Selatan tumbuh pesat, dengan skala pasar Asia Tenggara diperkirakan akan melampaui 25 miliar dolar AS pada tahun 2030.

- Status Ekspor China: Nilai ekspor makanan hewan peliharaan China meningkat dari tahun ke tahun. Pada Januari-Juli 2024, ekspor makanan hewan peliharaan dalam kemasan eceran naik 22,5% tahun-ke-tahun, dengan tujuan utama ke Eropa, Amerika, dan Asia Tenggara. Namun, secara keseluruhan masih dalam "tahap awal", didominasi oleh perusahaan-perusahaan terkemuka seperti Zhongchong dan Guaibao, yang sebagian besar mengekspor melalui model OEM/ODM, dengan pengaruh merek sendiri yang masih rendah.

II. Lanskap Persaingan dan Kinerja Perusahaan

- Persaingan Pasar Domestik: Pasar harga terjangkau didominasi oleh merek lokal (misalnya, pangsa pasar makanan anjing Maifudi sebesar 7,8%), sementara pasar premium dikuasai oleh merek impor (seperti Royal Canin dan Orijen). Rasio konsentrasi pasar domestik (CR5) hanya 17,4%, jauh lebih rendah dibandingkan AS (64%), dengan persaingan yang terfragmentasi.

- Struktur Perdagangan: Dari 2020 hingga 2024, total surplus perdagangan makanan hewan peliharaan China mencapai 8,29 miliar dolar AS, tetapi terdapat defisit sebesar 310 juta dolar AS pada makanan kaleng anjing/kucing, menunjukkan ketergantungan domestik pada makanan kaleng premium impor. Ekspor didominasi oleh camilan dan makanan pokok kelas bawah, sementara impor terkonsentrasi pada makanan pokok premium dan makanan kaleng.

- Studi Kasus Perusahaan Ekspor:

- Petty Shares: Mengandalkan pabrik di Asia Tenggara (Vietnam, Kamboja) dan Selandia Baru untuk menekan biaya, dengan pendapatan luar negeri menyumbang lebih dari 80% pada tahun 2024, dan bisnis makanan pokok menjadi titik pertumbuhan baru.

- Mars Group: Melalui strategi multi-merek (seperti Royal Canin, Pedigree) mencakup seluruh pasar, dengan bisnis makanan hewan peliharaan menyumbang 59% dari pendapatan global, dan membangun ekosistem "produk + medis" melalui akuisisi rumah sakit hewan.

III. Tantangan Inti

1. Kekurangan Merek dan Teknologi:

- Pengakuan merek premium domestik rendah, dengan persepsi konsumen yang mengakar bahwa "impor = kualitas tinggi".

- Kemampuan riset dan pengembangan makanan pokok premium (seperti formula bebas biji-bijian, makanan fungsional) tidak memadai, bergantung pada teknologi Eropa dan Amerika.

2. Rantai Pasokan dan Biaya:

- Bahan baku inti (seperti daging berkualitas tinggi, minyak ikan laut dalam) bergantung pada impor, dengan fluktuasi biaya yang besar.

- Meskipun pabrik di Asia Tenggara mengurangi tarif, mereka menghadapi tekanan dari kebijakan lingkungan dan peningkatan kapasitas produksi.

3. Akses Pasar dan Lokalisasi:

- Pasar Eropa dan Amerika memiliki persyaratan sertifikasi yang tinggi (seperti FDA, AAFCO), sementara Asia Tenggara perlu beradaptasi dengan selera lokal (seperti preferensi ikan) dan kebutuhan agama (seperti sertifikasi halal).

IV. Peluang dan Saran Strategis

- Pemilihan Pasar:

- Asia Tenggara: Kebijakan longgar, biaya rendah, cocok untuk produk dengan nilai ekonomis yang cepat masuk, misalnya melalui e-commerce lintas batas (Shopee, Lazada) untuk menjangkau konsumen.

- Eropa dan Amerika: Membutuhkan investasi jangka panjang dalam pembangunan merek, dengan fokus pada "premiumisasi" dan "lokalisasi", seperti meluncurkan makanan organik, formula yang disesuaikan, dan menggunakan model DTC (situs mandiri) untuk langsung menjangkau pengguna.

- Peningkatan Produk:

- Mengembangkan produk fungsional (seperti makanan untuk kesehatan pencernaan, makanan untuk hewan tua) dan makanan segar premium (beku-kering, panggang suhu rendah) untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda.

- Memperhatikan kemasan ramah lingkungan dan ketertelusuran bahan baku, untuk menyesuaikan dengan tren konsumsi berkelanjutan di Eropa dan Amerika.

- Tata Letak Rantai Industri:

- Mendirikan pabrik di luar negeri (seperti Selandia Baru, Asia Tenggara), dekat dengan sumber bahan baku dan menghindari hambatan perdagangan, seperti jaringan rantai pasokan "China + Asia Tenggara + Selandia Baru" milik Petty Shares.

- Mengintegrasikan saluran online dan offline, meningkatkan eksposur merek melalui media sosial (seperti TikTok, Instagram) dan pemasaran KOL.

V. Tren Masa Depan

- Premiumisasi dan Kecerdasan: Permintaan konsumen terhadap makanan alami dan makanan yang disesuaikan meningkat, optimalisasi formula dengan AI dan pabrik pintar (seperti basis Shandong Guaibao) akan menjadi terobosan teknologi.

- Diferensiasi Regional: Asia Tenggara terus tumbuh tinggi, pangsa pasar Eropa dan Amerika terkonsentrasi pada merek-merek terkemuka. Perusahaan China perlu menyeimbangkan produksi OEM dan merek sendiri, secara bertahap beralih dari "ekspor manufaktur" ke "ekspor merek".

Kesimpulan: Peluang dan tantangan ekspor makanan hewan peliharaan China berjalan beriringan. Perusahaan perlu melakukan terobosan dalam riset dan pengembangan teknologi, pembangunan merek, dan operasi lokalisasi, memanfaatkan dividen pasar negara berkembang dan integrasi rantai pasokan global untuk secara bertahap meningkatkan daya saing internasional.

2025年中国宠物食品出海分析报告-12025年中国宠物食品出海分析报告-22025年中国宠物食品出海分析报告-32025年中国宠物食品出海分析报告-42025年中国宠物食品出海分析报告-5