Bagi para pelaku bisnis yang go global, cara cepat menembus pasar lokal selalu menjadi tantangan dalam pemasaran merek domestik ke luar negeri.

Tantangan ini tidak hanya berlaku untuk perusahaan B2B, tetapi juga untuk merek B2C.

Karena perbedaan budaya, agama, dan kebiasaan konsumsi, banyak metode yang berlaku di dalam negeri belum tentu efektif di luar negeri. Oleh karena itu, momen pemasaran luar negeri menjadi salah satu solusi langka yang dapat berhasil menyatu dengan pasar lokal sekaligus memberikan hasil yang cepat terlihat.

Dan saat ini, untuk pasar luar negeri, ada satu momen pemasaran yang sangat baik—Ramadan.

Mengapa Ramadan dianggap sebagai momen pemasaran yang layak diinvestasikan?

Ramadan, bulan kesembilan dalam kalender Islam, adalah bulan suci bagi umat Muslim untuk berpuasa. Selama bulan ini, sekitar 2 miliar umat Muslim di seluruh dunia berpuasa penuh dari fajar hingga matahari terbenam, dan berkumpul bersama di malam hari untuk berbuka puasa.

Ramadan bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga periode penting untuk reuni keluarga, pertemuan teman, dan kegiatan komunitas. Dan periode seperti ini berlangsung selama sebulan penuh, dengan semangat konsumsi dan peluang bisnis yang tidak kalah dengan Imlek di China atau Natal di Barat.

Ini memberikan peluang pemasaran unik bagi merek global yang go international.

Karena selama Ramadan, kebutuhan umat Muslim akan produk seperti makanan, minuman, perawatan pribadi, dekorasi rumah, dan pakaian mode meningkat drastis. Selain itu, melalui pemasaran Ramadan, merek dapat memperdalam pemahaman dan penerimaan konsumen terhadap budaya merek, sehingga membangun loyalitas merek jangka panjang di pasar luar negeri.

TikTok business

Lalu, mengapa harus menerapkan pemasaran Ramadan di TikTok?

Karena TikTok adalah lautan lalu lintas yang wajib dipilih selama Ramadan.

Hingga saat ini, tagar #Ramadan telah ditonton lebih dari 74 miliar kali di TikTok, setara dengan setiap umat Muslim menontonnya hampir 40 kali. Jumlah video pendek terkait pun mencapai lebih dari 7,5 juta.

Dari distribusi penayangan global tagar #Ramadan pada tahun 2023, terlihat puncak yang sangat jelas pada bulan Maret hingga April, menunjukkan bahwa topik Ramadan memiliki daya ledak yang kuat di TikTok, dan popularitas ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Hanya dengan melihat satu tagar ini saja, jumlah penayangan dibandingkan tahun 2022 meningkat sebesar 113%.

Apakah ini belum cukup membuktikan pentingnya menerapkan pemasaran Ramadan di TikTok?

Memasuki arena pemasaran Ramadan, apa yang paling penting?

Meskipun Ramadan berlangsung lama, ini tidak berarti kita bisa menunggu hingga Ramadan dimulai untuk terjun.

Data TikTok Business selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa 77% pengguna TikTok mulai mempersiapkan belanja Ramadan satu minggu hingga satu bulan sebelumnya, dan aktivitas mereka di TikTok juga meningkat secara signifikan.

Pada saat yang sama, 58% pengguna TikTok tetap berbelanja selama Idul Fitri, membeli lebih banyak barang yang diinginkan. Oleh karena itu, baik industri e-commerce maupun aplikasi sosial perlu menghadapi tren ini dengan lebih ilmiah dan memenangkan pertarungan jangka panjang ini.

Berikut beberapa poin strategi yang perlu diperhatikan:

1、Budaya lokal dan kebutuhan konsumen.

Sebelum, selama, dan setelah Ramadan, kebiasaan festival dan kebutuhan konsumsi umat Muslim berubah di setiap tahap. Oleh karena itu, saat menyusun strategi pemasaran Ramadan, merek yang go global harus menyesuaikan ritme operasi mereka berdasarkan budaya lokal dan perubahan kebutuhan konsumen.

2、Pengendalian konten terkait Ramadan.

Ramadan memiliki kebiasaan budaya yang sangat kuat di wilayah seperti Timur Tengah, Indonesia, dan Malaysia. Oleh karena itu, saat menciptakan konten pemasaran terkait Ramadan, merek harus berhati-hati untuk menghindari tabu lokal, jika tidak mudah "gagal". Penting untuk menarik target konsumen dengan cara yang sensitif secara budaya dan kreatif.

3、Manfaatkan platform media sosial dengan baik.

Media sosial adalah jembatan penting yang menghubungkan merek dan konsumen. Terutama platform seperti TikTok, yang sangat aktif selama Ramadan. Merek dapat meningkatkan visibilitas dan partisipasi di pasar target dengan membuat tagar terkait Ramadan, berpartisipasi atau memulai tantangan, serta bekerja sama dengan tokoh berpengaruh lokal.

4、Pemilihan produk dan poin penjualan.

Selama Ramadan, kebutuhan belanja konsumen jelas berbeda dari hari biasa. Bagi pelaku e-commerce lintas batas, meneliti produk laris selama Ramadan dan titik panas penjualan di berbagai subkategori menjadi sangat penting, sambil menghindari penerapan pengalaman operasi sehari-hari secara membabi buta.

Setiap tahun selama Ramadan, ada merek yang menciptakan "keajaiban" pemasaran di TikTok,

mungkin keberuntungan besar berikutnya akan datang kepadamu

Ramadan tidak pernah hanya cocok untuk jenis perusahaan go global tertentu atau skenario pemasaran tertentu. Setiap merek yang menciptakan "keajaiban" pemasaran Ramadan di TikTok memiliki strategi pemasaran yang berbeda.

Misalnya, merek fast-moving consumer goods oral MeToo berhasil meluncurkan produk baru selama Ramadan dan dengan cepat membuka pasar; merek fashion Ounass menciptakan "festival dalam festival" selama Ramadan, mencapai lonjakan penjualan jangka pendek; tema pemasaran merek kosmetik Y.O.U selama Ramadan membangkitkan resonansi pengguna lokal, memperdalam hubungan emosional antara merek dan pasar lokal.

Pemasaran Ramadan tidak pernah menjadi eksklusif untuk jenis merek atau industri tertentu. Setiap merek yang mempersiapkan dengan serius berpotensi meraih kesuksesan. Mari kita bersama-sama bersiap untuk Ramadan, mungkin keberuntungan besar berikutnya akan datang kepadamu.