Di mata para penjual Indonesia, momen pertengahan Oktober tahun lalu bagaikan bencana yang datang tiba-tiba.

Pengumuman penutupan TikTok Shop Indonesia bagaikan air dingin yang memadamkan bisnis yang semula panas.

01 Part  Dari Kesulitan Musim Puncak, hingga Berlayar Kembali

Oktober tahun lalu, seharusnya menjadi musim puncak e-commerce, terutama hanya sebulan menjelang promo Double 11.

Mengingat periode yang sama di tahun 2022, TikTok Shop telah memicu gelombang belanja online di enam negara Asia Tenggara, dan stasiun Indonesia tampil menonjol, dengan GMV live streaming pada 11 November saja meningkat 408%.

Namun, tidak ada yang bisa menduga bahwa Double 11 tahun 2023 akan menjadi kekosongan, penjualan banyak penjual jatuh dari puncak ke dasar dalam sekejap, dan kehilangan platform TikTok Shop membuat mereka terpuruk dalam kesulitan besar.

"Saat itu bagaikan memasuki momen paling gelap, banyak pedagang dan lembaga MCN langsung berhenti beroperasi, ada yang beralih ke platform lain, ada yang langsung bubar," kenang seorang penjual.

Yang mengejutkan, setelah bertahan selama lebih dari 60 hari, para penjual yang tetap tinggal akhirnya melihat secercah harapan!

TikTok mengumumkan dengan lantang akan kembali ke pasar Indonesia dengan cara merger dengan produk e-commerce Tokopedia milik raksasa teknologi lokal GoTo. Saat itu, pedagang di TikTok asli dapat kembali memasang keranjang belanja untuk menyambut promo Double 12.

Begitu berita keluar, banyak penjual Indonesia sangat gembira.

Meskipun TikTok mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, seperti mengeluarkan dana 840 juta dolar AS untuk membeli saham. Namun, peningkatan penjualan yang melonjak setelah Double 12 setelah kembali juga memberikan sedikit penghiburan. Setelah promo, banyak penjual bahkan harus menjadwalkan pesanan hingga Februari atau Maret.

Sumber: Fastmoss 2023 Buku Putih Perkembangan Ekosistem TikTok

02 Part  Krisis Belum Sepenuhnya Berlalu, Lokalisasi Menjadi Tren

Namun, setelah titik balik, krisis yang dihadapi belum hilang.

Di satu sisi, cara operasi platform belum memiliki keputusan akhir.

Pihak terkait di Indonesia masih mengajukan pandangan bahwa platform media sosial tidak boleh menjalankan bisnis e-commerce. Hal ini dapat menyebabkan sistem transaksi e-commerce dan operasi backend pedagang dipindahkan dari TikTok Shop ke platform lain, atau bahkan berubah menjadi transaksi melalui tautan eksternal.

Di sisi lain, lokalisasi pedagang menjadi tren yang tak terelakkan.

Karena Tokopedia adalah platform lokal Indonesia, sebelumnya belum pernah memperkenalkan pedagang lintas batas. Setelah merger dengan TikTok, untuk mematuhi peraturan Indonesia, sistem manajemen untuk pedagang lintas batas menjadi lebih ketat.

Misalnya, pedagang perlu memiliki tiga informasi dasar: KTP (Kartu Tanda Penduduk), NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), dan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan), dan semua produk yang dijual di Tokopedia harus lulus sertifikasi standar nasional Indonesia SNI, memiliki petunjuk penggunaan untuk pengguna Indonesia dan penjelasan dalam bahasa Indonesia, dll.

Ini berarti pedagang lintas batas perlu mendaftarkan perusahaan seperti di Indonesia, memasukkan pajak ke dalam pengawasan Indonesia, dan membayar pajak sesuai ketentuan. Meskipun Indonesia belum secara jelas menentukan bagaimana pajak untuk perusahaan e-commerce lintas batas, dari ketentuan negara Asia Tenggara lainnya, tarif ini tidak akan terlalu rendah.

Begitu keuntungan tersembunyi dalam hal pajak bagi penjual e-commerce lintas batas hilang, biaya meningkat dan daya saing harga menurun, cara operasi pasti harus disesuaikan.

03 Part  Migrasi Rantai Pasok, Memicu Tren "Pabrik Perakitan" di Indonesia

Seiring perubahan lingkungan pasar, rantai pasok juga mengalami penyesuaian baru. Di Indonesia sudah muncul beberapa pabrik perakitan yang bekerja sama erat dengan rantai pasok China, yang menangani tahap akhir produksi produk.

Sementara itu, beberapa pedagang China yang go global mulai bekerja sama dengan pihak lokal Indonesia untuk mendirikan pabrik perakitan guna memenuhi permintaan pasar. Namun, penyesuaian rantai pasok juga menghadapi banyak tantangan, misalnya pabrik perakitan tidak dapat menyesuaikan diri dengan ritme penjualan impulsif TikTok, membutuhkan waktu lama untuk penyesuaian dan adaptasi.

Tidak hanya pasar Indonesia, pasar global juga menghadapi perubahan. Beberapa pedagang memilih untuk beroperasi di berbagai saluran untuk mengurangi risiko, sementara yang lain aktif melakukan lokalisasi dan bekerja sama dengan pihak lokal untuk menyesuaikan diri dengan permintaan pasar dan persyaratan kebijakan.

Waktu berlalu 120 hari, meskipun lingkungan pasar masih penuh tantangan, kembalinya TikTok Shop Indonesia tetap menyuntikkan vitalitas dan peluang baru ke pasar.

Seiring dengan proses kepatuhan platform dan pendalaman lokalisasi pasar, pasar e-commerce Indonesia di masa depan akan menjadi lebih matang dan stabil.