Baru-baru ini, TikTok telah menaikkan tingkat komisi platform e-commerce-nya di beberapa pasar Asia Tenggara. Mulai 16 September 2024, komisi di situs Indonesia dinaikkan hingga di bawah 10%, mencakup berbagai kategori seperti elektronik, fashion, dan gaya hidup.

Penyesuaian ini bukanlah peristiwa tunggal; beberapa situs di Asia Tenggara secara bertahap telah menaikkan rasio komisi platform, yang membuat banyak penjual TikTok Shop menghadapi tantangan baru.

Komisi TikTok Shop Asia Tenggara Naik Secara Menyeluruh

Penyesuaian di situs Indonesia adalah salah satu perwakilan dari gelombang kenaikan komisi di Asia Tenggara ini. Mulai 16 September, komisi untuk produk elektronik di situs Indonesia adalah 1% hingga 10%, untuk kategori fashion dan barang konsumen cepat adalah 4,25% hingga 10%, dan untuk produk gaya hidup lainnya adalah 2,5% hingga 10%.

Dibandingkan dengan kebijakan sebelumnya, kenaikan untuk beberapa kategori mencapai 3,5%. Penyesuaian di situs Malaysia lebih signifikan, dengan komisi untuk penjual mal barang konsumen cepat bahkan mencapai 14,58%. Situs lain seperti Filipina, Thailand, Singapura, dan lainnya juga secara berturut-turut menyesuaikan rasio komisi untuk berbagai jenis barang.

Menurut statistik, sejak TikTok Shop pertama kali memasuki Indonesia pada tahun 2021, komisi di pasar Asia Tenggara telah mengalami beberapa putaran kenaikan, dengan kenaikan keseluruhan lebih dari 10%. TikTok menyatakan bahwa penyesuaian ini bertujuan untuk meningkatkan fungsi dan layanan platform, membantu penjual meningkatkan pengalaman pengguna secara keseluruhan, tetapi ini tidak diragukan lagi menambah beban biaya bagi penjual.

Sumber gambar: Situs web resmi TikTok/Tokopedia

Permainan Antara Platform dan Penjual: Masalah Bertahan Hidup di Bawah Komisi Tinggi

Dampak penyesuaian ini terhadap penjual tidak kecil. Dengan Indonesia sebagai contoh, beberapa penjual melaporkan bahwa dengan berpartisipasi dalam aktivitas pengiriman gratis dan cashback platform berdasarkan kebijakan sebelumnya, komisi yang mereka tanggung sudah mencapai 11,5%. Setelah kebijakan baru diterapkan, komisi keseluruhan untuk beberapa kategori barang akan mencapai 15,5%, semakin menekan keuntungan penjual.

Sementara itu, biaya iklan dan biaya siaran langsung di TikTok Shop juga tetap tinggi, semakin meningkatkan biaya operasional penjual.

Seorang penjual anonim mengungkapkan bahwa rasio biaya iklan TikTok sekitar 30%, dan biaya ruang siaran langsung juga jauh lebih tinggi daripada platform pesaing. Hal ini menempatkan penjual dalam posisi yang tidak menguntungkan dalam persaingan, terutama ketika menghadapi komisi dan biaya iklan yang relatif lebih rendah dari platform e-commerce lainnya.

Selain itu, biaya transaksi platform juga meningkat. Misalnya, biaya transaksi di situs Malaysia naik dari 2,16% menjadi 3,78%, sementara di situs Thailand disesuaikan dari 3% menjadi 3,21%. Perubahan ini memperburuk tekanan biaya pada penjual, memaksa mereka untuk mengevaluasi kembali strategi bisnis mereka.

Perubahan Pasar Asia Tenggara di Balik Kenaikan Komisi

Kenaikan komisi TikTok bukanlah fenomena yang terisolasi; sebenarnya, lingkungan e-commerce di seluruh pasar Asia Tenggara sedang berubah. Kebijakan pajak dan peraturan perdagangan di berbagai negara semakin meningkatkan biaya kepatuhan bagi penjual e-commerce.

Misalnya, Thailand mulai Juli 2024 mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 7% pada barang murah yang diimpor dari luar negeri, yang secara langsung mempengaruhi margin keuntungan penjual lintas batas.

Selain itu, dengan meningkatnya pengawasan terhadap barang impor di negara-negara seperti Indonesia, persyaratan kepatuhan yang dihadapi platform e-commerce juga meningkat, semakin menambah kesulitan operasional bagi penjual di pasar Asia Tenggara.

Penyesuaian komisi TikTok kali ini mungkin terkait erat dengan perubahan kebijakan ini.

Hingga saat ini, lebih dari 80% penjualan TikTok Shop berasal dari Asia Tenggara

Apakah Periode Bonus Pasar Asia Tenggara Telah Berakhir?

Meskipun komisi naik dan biaya meningkat, pasar Asia Tenggara masih memiliki potensi besar. Menurut statistik, Asia Tenggara tetap menjadi salah satu pasar e-commerce dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Banyak penjual percaya bahwa meskipun tantangan berat, dengan mengoptimalkan rantai pasokan dan meningkatkan efisiensi operasional, mereka masih dapat mempertahankan daya saing di pasar.

Namun, bagi penjual skala kecil dan menengah, kenaikan komisi tidak diragukan lagi membawa tekanan bertahan hidup yang lebih besar. Dibandingkan dengan penjual terkemuka, penjual ini memiliki daya tawar yang lebih lemah, margin keuntungan yang sudah terbatas, ditambah dengan kenaikan biaya, mereka sulit mengatasi penyesuaian ini hanya dengan menaikkan harga.

Seorang penjual berpengalaman menunjukkan bahwa penjual terkemuka sering kali mendapatkan lebih banyak subsidi dan dukungan dari platform, sementara penjual di posisi menengah dan bawah menghadapi tekanan bertahan hidup yang lebih besar. Mereka tidak bisa dengan mudah menaikkan harga karena daya saing harga adalah kunci untuk menarik konsumen. “Kenaikan komisi platform tidak terlalu berdampak pada penjual terkemuka, tetapi bagi penjual kecil, ini mungkin berarti lebih banyak tantangan.”

Seiring dengan perluasan bertahap e-commerce TikTok di pasar Asia Tenggara, kenaikan komisi platform tampaknya menjadi tren yang tak terhindarkan. Meskipun ini memberikan dukungan untuk peningkatan layanan dan optimalisasi fungsi platform, ini juga memaksa banyak penjual untuk mengevaluasi kembali strategi operasional mereka.

Di pasar yang penuh dengan peluang dan tantangan ini, bagaimana menemukan titik keuntungan baru di lingkungan biaya tinggi telah menjadi masalah mendesak yang perlu dipecahkan oleh penjual. Masa depan e-commerce Asia Tenggara masih penuh potensi, tetapi keseimbangan antara platform dan penjual juga memerlukan penyesuaian dan eksplorasi baru.