
Di era digital, bisnis yang berangkat ke luar negeri telah menjadi norma baru dalam strategi globalisasi. Teknologi VR (Virtual Reality) dan AR (Augmented Reality), sebagai jembatan yang menghubungkan virtual dengan realitas, membentuk kembali cara merek berinteraksi dengan konsumen.

Pasar Asia Tenggara mengalami peningkatan konsumsi dan permintaan elektronik rumah tangga meningkat.

Di Amerika Serikat, seorang pengusaha "Nenek kelas" Tina Castaneda meledakkan TikTok dengan bola bumbu, yang disebut oleh para pengguna internet sebagai "Ibu Tua Amerika".

Sebagai platform yang menyatukan ratusan juta pengguna muda, TikTok menjadi saluran yang efektif untuk merek ke luar negeri karena basis penggunanya yang besar, distribusi lalu lintas yang kuat dan sistem rekomendasi konten yang dipersonalisasi.

Dengan meningkatnya permintaan pasar global untuk lokalisasi, personalisasi, dan inovasi, merek luar negeri tidak lagi paten perusahaan besar. Saat ini, banyak merek yang sebelumnya hanya ada di pasar domestik sebagai model pengecoran, sedang memperluas pasar internasional menggunakan platform sosial dan saluran e-commerce.