Di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, standar kebersihan mulut sangat tinggi. Pasar obat kumuh telah lama didominasi oleh merek internasional ternama dan merek lokal yang sudah mapan dan dipercaya.

Bagi merek baru, sulit untuk mendapatkan bagian pasar di lingkungan seperti ini.

Namun, di tengah kondisi pasar yang demikian, sebuah merek asal China—Metoo Mouthwash—berhasil bangkit dengan kecepatan luar biasa berkat strategi dan tindakan uniknya, menjadi primadona baru di pasar.

Bagaimana merek ini melakukannya? Bagaimana ia bisa menonjol di pasar Asia Tenggara dalam waktu singkat?

Hari ini, Tuke akan mengajak Anda untuk mengetahuinya.

Kebangkitan Metoo

Didirikan pada tahun 2021, Metoo adalah merek inovatif yang fokus pada perawatan mulut.

Pendiri, Wu Shaolong, memiliki pengalaman luas dalam operasi e-commerce di China. Saat yang lain masih ragu, ia sudah melihat potensi memanfaatkan media sosial untuk ekspansi ke Asia Tenggara.

Memilih Indonesia sebagai target pasar pertama karena e-commerce dan media sosial di sini sedang berkembang pesat. Selain itu, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, kebutuhan akan kebersihan mulut di Indonesia didorong oleh praktik keagamaan yang mendalam, sehingga obat kumuh menjadi produk perawatan pribadi yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun pasar ini telah lama didominasi oleh merek internasional tradisional dan merek lokal mapan, dengan persaingan yang hampir membeku, bagi Metoo, masih ada peluang samudra biru dan kebutuhan yang belum terpenuhi di samudra merah ini.

Pada Maret 2022, Metoo Mouthwash diluncurkan di TikTok Indonesia.Hanya tiga bulan kemudian, penjualan melebihi 2 juta botol.

Kemudian, dalam waktu singkat 3 tahun sejak berdiri, Metoo berhasil mencapaipenjualan tahunan lebih dari 100 juta yuan di Indonesia, menduduki puncak penjualan merek obat kumuh online.

Bagaimana perkembangan secepat ini bisa tercapai?

Dari 0 ke 2 Juta

Alasan Metoo Mouthwash memilih TikTok sebagai pintu masuk pasar juga karena merek obat kumuh tradisional di Indonesia hampir tidak memiliki suara di platform baru seperti TikTok. Ini memberikan peluang sempurna bagi Metoo untuk memasuki pasar Indonesia di tahap awal.

Untuk itu, mereka menerapkan dua strategi inti:

1. Memanfaatkan karakteristik platform video pendek untuk menciptakan konten yang menarik dan mudah disebarluaskan.

2. Memilih momen budaya penting seperti bulan Ramadan untuk mengadakan tantangan dan acara khusus.

Strategi-strategi inilah yang membuat penjualan Metoo Mouthwash di TikTok Shop melonjak secara dramatis, dengan cepat menjadi produk populer di TikTok Indonesia.

Selain itu, strategi konten Metoo tidak terbatas pada tampilan produk sederhana. Mereka juga membuat serangkaian video edukatif, seperti mengajarkan cara berkumur yang benar dan cara meningkatkan kesehatan mulut dalam kehidupan sehari-hari. Konten ini tidak hanya dengan cepat mendapatkan banyak tayangan dan dibagikan di TikTok, tetapi hingga saat ini juga telah mengumpulkan 1.126.200 penggemar setia bagi merek.

Sumber: EchoTik

Menggandeng Saluran Online dan Offline

Metoo tidak puas dengan kesuksesan online, dan segera mulai aktif mengembangkan saluran offline.

Setelah meraih kesuksesan awal di TikTok, merek dengan cepat beralih ke perluasan saluran offline. Metoo bekerja sama dengan dua jaringan minimarket besar di Indonesia, Alfamart dan Indomaret, mewujudkan integrasi yang mulus dari online ke offline.

Secara offline, Metoo tidak hanya menempatkan produk di rak, tetapi juga meningkatkan visibilitas merek dan keinginan beli konsumen melalui konter, promosi, dan iklan offline.

Sumber: Google

Mendalami Pasar Indonesia dengan Lokalisasi

Dalam desain produk dan pemasaran, Metoo sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan lokal pasar Indonesia.

Dalam desain produk, mereka meluncurkan obat kumuh tanpa alkohol untuk menyesuaikan dengan keyakinan agama Muslim, dan menawarkan berbagai rasa yang sesuai dengan preferensi selera konsumen lokal.

Dalam strategi pemasaran, Metoo secara erat mengintegrasikan karakteristik budaya Indonesia dan kebiasaan hidup konsumen, menciptakan citra merek yang terkait erat dengan budaya lokal.

Kisah pertumbuhan Metoo memberikan contoh kuat bagi perusahaan China untuk memasuki pasar Asia Tenggara.

Dalam arus globalisasi, kunci kesuksesan tidak hanya terletak pada inovasi produk dan ketahanan perusahaan, tetapi juga pada wawasan tajam dan adaptasi terhadap lingkungan pasar baru. Ini adalah topik yang harus dipikirkan dan dipelajari secara mendalam oleh setiap merek China yang ingin berekspansi di pasar global.